HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Sattar: Target Saya Triliun


Sattar Taba, Direktur Utama PT KBN (Persero):
Target Saya Triliun

Direktur Utama PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Sattar Taba memilikijurus jitu untuk melipatgandakan laba perusahaan yang ditanganinya.

Sebelum memimpin KBN, Sattar adalah salah seorang direktur Semen Tonasa. Sekitar tahun 70-an ia ditugaskan membenahi Semen Kupang, sebuah perusahaan BUMN yang nyaris bangkrut. Sattar menyebutnya lebih banyak kerugian dari pada modal.

Belakangan nama Sattar Taba menjadi buah bibir, karena berhasil melesatkan jumlah laba KBN hingga mencapai 2.500 persen. Tapi dia belum puas. Sattar pasang target. Laba KBN akan dia dongkrak lagi menjadi 1,6 triliun rupiah per tahun.

Ketika baru setahun dipimpin Sattar, laba KBN mencapai 267, 14 miliar rupiah. Setelah dipotong pajak menjadi 259, 13 miliar rupiah. Padahal setahun sebelumnya laba KBN hanya 14 miliar rupiah.

Apa jurus jitu milik Sattar Taba? Pria ke- lahiran Makassar itu membeberkannya untuk FOCUS yang mewawancarainya di ruang kerja, Cakung, Jakarta Utara. Berikut petikannya:

Keuntungan KBN apa masih bisa Anda tambah?
Keuntungan KBN masih bisa ditambah. Masih bisa. Kalau semua investasi sudah selesai, pendapatan bisa melonjak lagi sampai 1,6 triliun rupiah, kira-kira akan dapat kita capai di tahun 2016, Tapi semua tergantung pada investasinya. Kalau semua investasinya jalan maka keuntungan sebanyak itu tidak terlaiu besar. Tidak terlalu berat. Target saya triliun.

Apa yang menjamin investasi KBN jalan?
Untuk menjamin investasinya jalan, kita harus benahi mulai dari SDM-nya, potensinya, keuangannya, dan dukungan dari para pemegang saham, Menteri BUMN. Kalau ada yang kita minta, seperti mau reklamasi, jangan iama-lama.

Bisa Anda ilustrasikan langkah yang telah Anda lakukan untuk menambah jumlah laba KBN?
Saya menerapkan efisiensi biaya dan integri tas pribadi. Dulu ada pelabuhan kita, 100 meter. Hanya disewakan 35 ribu rupiah per meter per tahun. Hasilnya kan cuma 3,5 juta rupiah. Saya ambil alih pelabuhan kembali. Saya lakukan rasionalisasi. Hasilnya, orang sewa 6,5 miliar rupiah.

Anda sangat paham manajemen perusahaan. Punya pengalaman banyak?
Saya ini sejak kelas 3 SD, umur 10 tahun, orang tua saya sudah membina saya sebagai seorang pengusaha. Saya jualan rokok, jualan koran, jualan buah, jualan apa saja yang bisa memberikan pendapatan kepada saya pribadi dan untuk membiayai sekolah. Saya di SMP sudah menjadi distributor rokok, sudah punya outlet yang khusus, sampai selesai perguruan tinggi di Makassar, Kelas 3 SMA orang tua saya meninggal. Pengkaderan dilanjutkan oleh kakak-kakak saya. Jadi pengkaderan saya bukan nanti setelah sarjana, tapi sejak SD. Sekolah, cari uang, sekolah, cari uang, sekolah, cari uang, dan seterusnya.

Pengkaderan dan kerja keras sejak kecil membuat saya memahami bahwa secara teoritis tanpa kerja keras, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan tidak ada sesuatu yang kita dapat. Ini juga selaras dengan ajaran Islam. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak mencoba mengubahnya melalui ikhtiar. 

Selesai kuliah semua harta dan usaha yang telah saya rintis itu saya berikan ke adik yang pengkaderannya baru terjadi seteiah dia selesai kuliah. Saya sendiri melamar ke Departemen Perhubungan, Departemen Keuangan, Depar- temen Perdagangan, dan semuanya lulus. Tiga-tiganya lulus. Termasuk di Semen Tonasa. Dari 51 peserta hanya saya sendiri yang lulus. 

Saya pilih Semen Tonasa, karena waktu itu Departemen Keuangan dan Perhubungan belum keluar SK-nya. Perdagangan keluar SK tapi saya ditempatkan di Maluku. Tidak dikasih akomodasi, hanya dikasih tiket satu.

Mungkin sudah jodoh barangkali, hanya dalam tempo satu tahun saya diangkat menjadi kepala bagian penjualan. Beberapa tahun kemudian menjadi direktur, menangani anak perusahaan yakni perusahaan pelayaran dan ekspedisi. 

Tahun 1988 masuk ke Semen Kupang. Tahun 2000 balik lagi ke Semen Tonasa. Di bawahnya harus ada orang-orang yang kata dan per- buatanny a sama. Tidak mudah tergoda, apa lagi oleh tahta, harta, wanita.

Kalau sudah memiliki orang-orang seperti ini, BUMN pasti baik. Apa lagi didukung oleh regulasi dan birokrasi yang bagus. Terus harus cepat didukung.

Didukung bagaimana?
Inovasi dan ide-ide yang disampaikan harus bisa segera dilakukan, jangan terlalu lama prosedurnya, karena bisnis itu kan kesempatan. Kesempatan itu kalau sudah lewat maka sudah jenuh. Anda mengingatkan pada revolusi mental Pres- iden Jokowi. Memang karakter beliau dengan karakter saya hampir sama.

Karakter yang mana?
Dalam hal bekerja, saya pekerja keras dan punya pendirian, integritas, kejujuran, keterbukaan. Saya tidak memuji diri sendiri, namun karakter saya sama seperti karakter Pak JK dan Pak Jokowi, hanya saja saat ini nasib saya cukup sebagai Dirutsaja.
Kalau soal kerja keras, saya hanya istirahat sekitar dua jam per hari, paling banyak tiga jam, tidak mengenal Sabtu, Minggu. Meskipun hari raya Idul Fitri, saya tetap bekerja di kantor.

Tidak ada rencana ke poiitik?
Pak, saya orang patuh dan loyal. Apa saja yang diperintahkan, saya kerjakan, tanpa pamrih, karena saya pekerja profesional, saya juga memiliki karakter pebisnis, sehingga tidak pernah tertarik untuk ke poiitik.

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *