HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Suhardi Alius: Jangan Sharing Sebelum Saring


Komjen Pol Drs Suhardi Alius, MH: Jangan Sharing Sebelum Saring

Futurolog Amerika, Alvin Tofler, pernah menyebut tiga gelombang mengubah peradaban manusia. Dalain bukunya 'The third Wave', Tofler mengidentifikasi gelombang pertama adalah pertanian, kedua revolusi industri, dan ketiga komnnikasi. Fenomena dunia saat ini membenarkan teori Alvin Tofler.
Komunikasi menerobos batas-batas negara, mengobrak-abrik tatanan lama, dan mendorong peradaban tersendiri. Terdapat hal baik, namun terseret juga perilaku tidak terpuji, bahkan berbahaya di tengali penggrmaan peralatan komunikasi. Jika dahulu pen- gusaha sibuk menata toko, kini tidak lagi. Gawai yang dhniliki penduduk hingga ke desa-desa memungkinkan transaksi tanpa tatap muka. Itn hanyalah salah satu contoh.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Drs Suhardi Alius, MH, mengatakan bahwa globalisasi yang dipicu teknologi komunikasi merasuk ke semua sendi kehidupan, juga berbangsa. "Tinggal selanjutnya tergantung kemampuan kita mengedepankan pemilahan dan pemilihan terhadap semua nilai dari luar, agar kita jangan sampai teracuni oleh nilai-nilai yang dapat merusak pondasi kebangsaan seperti radikalisme dan gaya glamor yang tidak selaras dengan kebudayaan kita," katanya.

Sejak beberapa wak- tu, BNPT memopulerkan pesan berhunyi: Jangan sharing tanpa saring. Badan itu melihat di tengah gairah masyarakat bersosial media terbagi juga konten-konten berbahaya berupa radikalisme, berita bohong, dan fitnah. "Karena itu jangan kita terbuai dengan kebiasaan sharing, jangan informasi yang kita terima mentah-mentah kita sharing ke orang lain, sebab dampaknya sangat luas, dalam tempo cepat dapat menjadi opini publik padahal itu tidak benar dan merugikan mindset masyarakat. Jadi sebaiknya konfirmasi dulu, baru bagikan ke teman," papar mantan Kepala Bareskrim Mabes Polri itu.

Data pada Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebut, hingga Februari 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta dari 256,2 seluruh penduduk. Berarti sebanyak 51,8 persen penduduk Indonesia menggunakan internet. Data ini menunjukkan perkembangan yang fantastis. Sebab di tahun 2014 pengguna internet di negara ini berjumlah 88,1 juta.
Data APJII juga mengungkap perilaku pengguna internet sebanyak 31,3 juta orang mengakses internet untuk mengupdate informasi, 17,9 juta untuk mengisi waktu luang. Sementara dari segi usia, pengguna internet didominasi usia 10-44 tahun. Jumlah pengguna dengan kategori ini mencapai 94 juta. Berdasar konten media sosial yang paling sering dikunjungi, maka Facebook menduduki ranking tertinggi dengan 71,6 juta pengguna.
Memperhatikan data itu, pantas Suhardi Alius selalu mengingatkan bahaya radikalisme yang disusupkan melalui informasi-informasi via media sosial. Sebab saat ini media sosial telah menjadi arena pertarungan baru bagi penanaman kebencian dan radikalitas. Dalam pertarungan itu berita bohong dan menyesatkan (hoax) jadi senjata yang sangat diandalkan. Berita hoax dapat dengan mudah viral di tengah masyarakat yang malas memeriksa kembali validitas kont- en dan kredibilitas sumber berita.
Kelompok dan organisasi radikal sangat rajin membangun narasi untuk membentuk opini sesat masyarakat melalui berita hoax yang mudah viral. Banyak di antara mereka menunggangi isu nasional yang disesatkan tanpa sumber jelas.

Menjadikan media sosial sebagai ajang fitnah, provokasi, hasutan, dan ajakan kekerasan melalui penerbitan berita hoax, saat ini sedang digemari kelompok dan organisasi radikal. Sebab media sosial tidak membutuhkan panggung khusus untuk menanamkan paham dan keyakinan sesat.

Karena itu Suhardi Alius melihat perlunya upaya bersama untuk membangun kontra narasi radikalisme dengan meramaikan dunia maya dengan konten damai, toleran, kebhinnekaan dan wawasan kebangsaan sebagai pembanding bagi menjamurnya narasi radikalisme di dunia maya. 
"Dulu baiat dilakukan secara offline, sekarang baiat dilakukan secara online. Ini sangat berbahaya," tegasnya.

Sebagai Kepala BNPT, Suhardi Alius tak tinggal diam. Dia merekrut banyak anak muda dengan talenta tinggi di bidang teknologi informasi. Mereka menjadi Duta Damai yang tersebar di delapan provinsi. Anak-anak muda itu direkrut karena sebelumnya merupakan blogger dan pemilik akun media sosial dengan followers cukup banyak. Beberapa di antaranya memiliki followers hingga sejuta pengguna media sosial.

"Mereka membantu kita dengan membagi-bagikan pe- san-pesan damai yang menggunakan bahasa mereka agar lebih dapat diterima para pengguna media sosial yang kebanyakan anak-anak muda," papar kelahiran Jakarta, to Mei 1962 itu. ■

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *