HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Mewujudkan Impian Sang Legenda Sepak Bola

By On Agustus 08, 2018


Impiannya bisa memiliki sekolah sepak bola. Sehingga bisa memberi kesempatan kepada anak-anak Indonesia menjadi pemain sepak bola profesional berskala internasional.

Tepat di hari ulang tahunnya, 8 Agustus, impian Sang Legenda Maulwi Saelan terwujud. Semangat dan kecintaan beliau yang luar biasa pada sepak bola terasa menyeruak sepanjang acara.

Kapten & Kiper Legendaris
Rasanya tak ada pecinta sepak bola Indonesia yang tidak mengenal nama Maulwi Saelan. Di era beliau, prestasi sepak bola Indonesia mencapai puncaknya. Prestasi timnas Indonesia pada era Maulwi Saelan antara lain: Olimpiade Melbourne 1956, Juara Asia Pra Piala Dunia 1958 dan Bronze Medal Asian Games Tokyo 1954.
Prestasi sang Legenda

8 Agustus adalah ulang tahun Pak Saelan. Namun, kapten dan kiper legendaris Indonesia ini telah berpulang pada 10 Oktober 2016 dalam usia 90 tahun.
Tidak hanya sebagai pemain sepak bola legendaris, yang terkenal luar biasa dalam mengawal gawang timnas Indonesia, beliau juga dikenal sebagai mantan pengawal setia Presiden Soekarno.

Pernah juga menjabat sebagai ketua PSSI. Saat menjadi ketua PSSI beliau dikenal perhatiannya yang luar biasa terhadap pemain-pemain Indonesia. Sangat mengerti permasalahan pemain, karena beliau sendiri pernah menajdi seorang pemain timnas.

Impian terwujud
Sebagai pemain sepak bola yang sudah menorehkan prestasi tinggi untuk negeri, Maulwi Saelan yang mendedikasikan hidupnya hingga akhir hayat di dunia pendidikan, bermimpi memiliki sebuah sekolah sepak bola.
Suasana peresmian lapangan bola dalam ruang

“Pak Saelan bercita-cita  untuk memiliki sekolah bola. Tapi baru sekarang terwujud setelah beliau meninggal,” ungkap DR. Hamid Chalid, S.H., LL.M, selaku ketua Yayasan Syifa Budi, dalam sambutannya pada acara Opening Ceremony Saelan Football Academy sekaligus Saelan Indoor Soccer Arena.
Saelan Indoor Soccer Arena adalah lapangan bola dalam ruang dengan rumput sintesis. Berada di lantai 4 gedung Al Azhar Syifa Budi Jakarta, lapangan dibangun dengan standar intenasional.

Anak-anak yang sekolah bola selain berlatih di lapangan bola biasa, juga akan berlatih di lapangan bola sintetis ini. Mereka akan berlatih di bawah pelatih dari Spanyol. Karena Saelan Football Academy membangun kerjasama dengan Laliga Spanyol. Menurut Pak Hamid, setiap tahun akan memberangkatkan anak-anak yang terlatih ke Spanyol. “Agar terbangun mimpi mereka untuk menjadi pemain berskala internasional,” demikian harapannya. Lebih lanjut Pak Hamid juga menyebutkan Saelan Memorial Cup 2018 sedang dalam proses.
Sebagian tamu yang hadir pemain bola kenamaan

Terbayang senyum bangga dan bahagia Pak Saelan, karena cita-cita beliau akhirnya terwujud. (MH).

Foto: Dok. Azka

Melintasi Zaman dengan Penuh Kerendahan Hati

By On Juli 15, 2018



Saya baca buku Prof Chunank ini butuh waktu beberapa hari. Ada bagian2 tertentu yang asyik dibaca ulang karena mengingatkan saya akan masa2 "perjuangan" semasa mahasiswa dulu. Saya tidak berteman akrab dgn beliau. Tapi saya sering secara kebetulan bertemu beliau. Yang paling sering di kantin "Paman" serta di senat mahasiswa. Saya suka gaya beliau yg "merakyat", tidak sombong, dan mau berteman dengan siapa saja termasuk dgn kita2 yg merupakan2 adik2 aktivisnya. Padahal ketika itu nama beliau sudah lumayan beken.
Seperti juga saya, saya yakin banyak yg tak menyangka dibalik penampilannya yg sederhana dan rendah hati, beliau adalah seorang yg sangat brilyan.  Membaca keseluruhan isi buku, saya menyimpulkan buku itu benar2 ditulis dengan segala kerendahan hati tanpa ada satupun kesan pamer atau menyombongkan diri akan apapun yg membanggakan. Satu kata yg paling tepat utk menyebut dirinya dan bukunya: hebat! (Rudy S. Pontoh, Direktur Utama PT Inti Media Focus ).

Dahsyat! Indonesia Juara Dunia Lari 100 M

By On Juli 12, 2018

Ketika mata dunia, juga Indonesia, terfokus pada Piala Dunia, ada moment dahsyat yang nyaris terabaikan. Seorang anak bangsa berjuang di event internasional untuk mengharumkan Indonesia. Dan, yang mengharukan, tanpa elu-elu penonton, Lalu Muhammad Zohri menempatkan Indonesia di posisi amat sangat membanggakan: meraih Juara Dunia Lari 100 m dalam Kejuaraan  Dunia Atletik U-20 di Finlandia, Rabu, 11 Juli 2018.

Dalam final event yang berlangsung di Tampere, Finlandia, pria berusia 18 tahun ini mencatat waktu 10,18 detik. Ia mengalahkan dua pelari Amerika, Anthony Schwartz dan Eric Harrison yang mencatatkan waktu 10,22 detik.
Kemenangan yang ditorehkan Lalu Muhammad ini merupakan yang pertama bagi Indonesia.

Yang mengharukan, sang juara dunia sempat kebingungan mencari bendera Merah Putih setelah dipastikan jadi juara. Untungnya, beberapa saat kemudian ia akhirnya mendapatkan bendera Merah Putih dari panitia.
Siapa Lalu Muhammad Zohri yang membuat bangsa Indonesia jadi perbincangan dunia saat ini?

Lahir 1 Juli 2000, Zohri -- demikian ia biasa dipanggil—berasal dari Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang, Lombok Utara. Berasal dari keluarga amat sederhana, Zohri merupakan anak ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad. Kedua orang tua Zohri sudah meninggal dunia.

 Dan di kampungnya, Zohri tinggal di rumah yang amat sangat sederhana. Banyak masyarakat berharap sesudah menorehkan prestasi yang amat membanggakan bangsa ini, Zohri bisa tinggal di rumah yabg lebih layak. Banyak yang mendoakan agar ia bisa mendapat bonus sebuah rumah!

 Zohri mengenyam pendidikan SD2 Pemenang Barat, lalu melanjutkan SMP 1 juga di Pemenang. Belum tamat SMP Zohri mendapat tawaran untuk ikut dalam kejuaraan. Ia dianggap berpotentsi dan berhasil hingga beberapa kali menoreh prestasi. Sampai ia mendapat julukan sebagai: Anak ajaib dari Lombok!
Foto: Istimewa

Dulu Muazin Kini Wakapolri

By On Juni 09, 2018


Dulu Muazin Kini Wakapolri

Udara pagi menjelang subuh itu cukup dingin. Seorang anak lelaki berusia tujuh tahun, bangkit. Dia berjalan mendekati mimbar masjid di kawasan Makassar, Sulawesi Selatan.

DENGAN lantang anak lelaki bersarung itu melantunkan azan subuh. Suaranya mengalun dan melengking, memanggil umat Islam di sekitar masjid untuk menunaikan kewajiban salat di pagi hari.

Puluhan tahun kemudian, anak lelaki itu menjadi Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia (Wakapolri). Dialah Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Drs Syafruddin, MSi. Dia pula Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI). Dia pun ditunjuk menjadi Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia dalam ajang Asian Games XVIII tahun 2018.

“Saya bersumpah bahwa saya selaku pejabat Polri akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Syafruddin dalam sumpahnya, saat pelantikan Wakapolri oleh Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian, 10 September 2016.

Selain kesetiaan, dia juga berjanji tidak akan melakukan praktik KKN dan gratifikasi serta senantiasa bekerja demi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, bukan kepentingan pribadi serta golongan.

Sebelum menjadi orang nomor dua di lingkungan Polri, Komjen Syafruddin pernah mengisi beberapa jabatan penting dalam kariernya, antara lain ajudan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 2004, Wakil Polda Sumatera Utara, Kapolda Kalimantan Selatan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam Polri) dan mulai menjabat Kalemdikpol pada 2015.

Jabatan Wakapolri digenggamnya setelah penjabat sebelumnya, Komjen Budi Gunawan, diangkat sebagai Kepala BIN oleh Presiden Joko Widodo mulai Jumat, 9 September.

Hadiah Jubah Imam
Di awal April, Syafruddin sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia menerima kunjungan ulama dari Arab Saudi, Syekh Khalid Al Hamoudi.
Pada pertemuan ini, Syafruddin dan Syekh Khalid bertukar cinderamata. Syafruddin mendapat jubah bisht dari Syekh Khalid, “Jubah ini biasa digunakan oleh imam di Masjidil Haram,” ujar Syekh Khalid.
Sebaliknya Syafruddin menyerahkan beberapa buku tentang sejarah masjid-masjid di Indonesia. Dia juga menghadiahi Syekh Halid cincin batu mulia.
Selain jubah imam, Syekh Khalid juga menghadiahi Syafruddin naik haji karena menilai Syafruddin telah mengabdikan diri untuk masjid.

Orang Makassar Ketiga
Syafruddin merupakan polisi kelahiran Makassar ketiga yang menjabat orang nomor dua di Mabes Polri.
Yang pertama adalah Letnan Jenderal Polisi Chairuddin Ismail. Pria kelahiran Makassar 1949 ini, menjabat Wakapolri mulai 18 September 2000 hingga 2 Juni 2001.
Wakapolri asal Makassar kedua adalah Komjen Pol Jusuf Manggabarani. Puang Ocha, sapaan jenderal Jusuf, menjabat 6 Januari 2010 hingga 1 Maret 2011.

Moeldoko : Tak Ada Agama Ajarkan Kebengisan

By On Juni 05, 2018


Sumber foto: asiaone.com


Moeldoko : Tak Ada Agama Ajarkan Kebengisan

Beberapa aksi terorisme yang terjadi belakangan ini jelas tidak memiliki kaitan dengan agama tertentu. Ini karena tidak ada satu agama apa pun mengajarkan semua perilaku bengis dan tak berperikemanusiaan seperti yang dilakukan para teroris itu.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat menerima Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Kantor Staf Presiden, Senin, 14 Mei 2018.

“Clear, kita mengutuk keras kelakukan aksi teror. Diperlukan upaya bersama mengatasi teror tanpa memunculkan permusuhan antar agama,” kata Moeldoko.

Panglima TNI 2013-2015 ini menegaskan, semua elemen masyarakat harus menjadikan terorisme sebagai musuh bersama. “Jangan kehilangan momentum. Kita nyatakan perang, karena ancamannya sudah nyata,” kata Moeldoko.

Pada kesempatan itu, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia mengeluarkan pernyataan terkait serangan bom bunuh biri di beberapa gereja di Surabaya.

“GMKI mengajak lembaga gereja dan lembaga keagamaan lainnya, organisasi mahasiswa, organisasi masyarakat, dan segenap lapisan masyarakat untuk selalu siaga, tidak takut, serta membangun jejaring keamanan dan koordinasi antar lembaga agar dapat bersama-sama mencegah aksi terorisme lanjutan yang mungkin akan terjadi di sekitar kita,” kata Ketua Umum GMKI Sahat Sinurat.

Didampingi Sekretaris Umum Alan Singkali, Sahat juga menyatakan bahwa GMKI mengingatkan semua tokoh masyarakat, tokoh publik, tokoh agama, pejabat, politisi, serta guru/dosen untuk tidak lagi mengeluarkan ujaran dan doktrin kebencian terhadap suku, agama, ras, dan golongan tertentu.

“Doktrin dan ujaran kebencian menjadi benih lahirnya paham-paham radikal yang menyebabkan terjadinya tindakan terorisme,” ungkapnya.

Selain itu, GMKI meminta setiap pimpinan lembaga baik lembaga negara, lembaga pemerintahan, lembaga agama, sekolah dan perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan organisasi mahasiswa untuk mengupayakan, memastikan, dan menjamin bahwa tidak ada satu pun anggotanya yang menganut paham-paham radikal. Setiap lembaga harus menindak tegas para anggotanya yang mengeluarkan ujaran kebencian di media sosial, maupun dalam aktivitas sehari-hari baik di ruang-ruang publik, tempat ibadah, maupun di ruang-ruang tertutup.

GMKI juga meminta pemerintah untuk melakukan Pertemuan Nasional dengan komponen Lembaga Agama, Lembaga Perguruan Tinggi, Organisasi Mahasiswa, dan Organisasi Masyarakat untuk membahas tentang langkah-langkah perlawanan terhadap paham radikalisme dan aksi terorisme.

Menutup pernyataan sikap ini, GMKI kembali mengingatkan bahwa terorisme dan radikalisme adalah wabah yang sangat berbahaya dan harus dilawan dengan cara yang sistematis, komprehensif, dan berkesinambungan. Perlu adanya integrasi kebijakan dan kerjasama di antara lembaga negara dan non negara dalam merencanakan langkah-langkah konkret menghadapi gerakan radikalisme dan terorisme. (SUMBER: intifocus.com)

Sattar: Target Saya Triliun

By On Juni 04, 2018


Sattar Taba, Direktur Utama PT KBN (Persero):
Target Saya Triliun

Direktur Utama PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Sattar Taba memilikijurus jitu untuk melipatgandakan laba perusahaan yang ditanganinya.

Sebelum memimpin KBN, Sattar adalah salah seorang direktur Semen Tonasa. Sekitar tahun 70-an ia ditugaskan membenahi Semen Kupang, sebuah perusahaan BUMN yang nyaris bangkrut. Sattar menyebutnya lebih banyak kerugian dari pada modal.

Belakangan nama Sattar Taba menjadi buah bibir, karena berhasil melesatkan jumlah laba KBN hingga mencapai 2.500 persen. Tapi dia belum puas. Sattar pasang target. Laba KBN akan dia dongkrak lagi menjadi 1,6 triliun rupiah per tahun.

Ketika baru setahun dipimpin Sattar, laba KBN mencapai 267, 14 miliar rupiah. Setelah dipotong pajak menjadi 259, 13 miliar rupiah. Padahal setahun sebelumnya laba KBN hanya 14 miliar rupiah.

Apa jurus jitu milik Sattar Taba? Pria ke- lahiran Makassar itu membeberkannya untuk FOCUS yang mewawancarainya di ruang kerja, Cakung, Jakarta Utara. Berikut petikannya:

Keuntungan KBN apa masih bisa Anda tambah?
Keuntungan KBN masih bisa ditambah. Masih bisa. Kalau semua investasi sudah selesai, pendapatan bisa melonjak lagi sampai 1,6 triliun rupiah, kira-kira akan dapat kita capai di tahun 2016, Tapi semua tergantung pada investasinya. Kalau semua investasinya jalan maka keuntungan sebanyak itu tidak terlaiu besar. Tidak terlalu berat. Target saya triliun.

Apa yang menjamin investasi KBN jalan?
Untuk menjamin investasinya jalan, kita harus benahi mulai dari SDM-nya, potensinya, keuangannya, dan dukungan dari para pemegang saham, Menteri BUMN. Kalau ada yang kita minta, seperti mau reklamasi, jangan iama-lama.

Bisa Anda ilustrasikan langkah yang telah Anda lakukan untuk menambah jumlah laba KBN?
Saya menerapkan efisiensi biaya dan integri tas pribadi. Dulu ada pelabuhan kita, 100 meter. Hanya disewakan 35 ribu rupiah per meter per tahun. Hasilnya kan cuma 3,5 juta rupiah. Saya ambil alih pelabuhan kembali. Saya lakukan rasionalisasi. Hasilnya, orang sewa 6,5 miliar rupiah.

Anda sangat paham manajemen perusahaan. Punya pengalaman banyak?
Saya ini sejak kelas 3 SD, umur 10 tahun, orang tua saya sudah membina saya sebagai seorang pengusaha. Saya jualan rokok, jualan koran, jualan buah, jualan apa saja yang bisa memberikan pendapatan kepada saya pribadi dan untuk membiayai sekolah. Saya di SMP sudah menjadi distributor rokok, sudah punya outlet yang khusus, sampai selesai perguruan tinggi di Makassar, Kelas 3 SMA orang tua saya meninggal. Pengkaderan dilanjutkan oleh kakak-kakak saya. Jadi pengkaderan saya bukan nanti setelah sarjana, tapi sejak SD. Sekolah, cari uang, sekolah, cari uang, sekolah, cari uang, dan seterusnya.

Pengkaderan dan kerja keras sejak kecil membuat saya memahami bahwa secara teoritis tanpa kerja keras, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan tidak ada sesuatu yang kita dapat. Ini juga selaras dengan ajaran Islam. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak mencoba mengubahnya melalui ikhtiar. 

Selesai kuliah semua harta dan usaha yang telah saya rintis itu saya berikan ke adik yang pengkaderannya baru terjadi seteiah dia selesai kuliah. Saya sendiri melamar ke Departemen Perhubungan, Departemen Keuangan, Depar- temen Perdagangan, dan semuanya lulus. Tiga-tiganya lulus. Termasuk di Semen Tonasa. Dari 51 peserta hanya saya sendiri yang lulus. 

Saya pilih Semen Tonasa, karena waktu itu Departemen Keuangan dan Perhubungan belum keluar SK-nya. Perdagangan keluar SK tapi saya ditempatkan di Maluku. Tidak dikasih akomodasi, hanya dikasih tiket satu.

Mungkin sudah jodoh barangkali, hanya dalam tempo satu tahun saya diangkat menjadi kepala bagian penjualan. Beberapa tahun kemudian menjadi direktur, menangani anak perusahaan yakni perusahaan pelayaran dan ekspedisi. 

Tahun 1988 masuk ke Semen Kupang. Tahun 2000 balik lagi ke Semen Tonasa. Di bawahnya harus ada orang-orang yang kata dan per- buatanny a sama. Tidak mudah tergoda, apa lagi oleh tahta, harta, wanita.

Kalau sudah memiliki orang-orang seperti ini, BUMN pasti baik. Apa lagi didukung oleh regulasi dan birokrasi yang bagus. Terus harus cepat didukung.

Didukung bagaimana?
Inovasi dan ide-ide yang disampaikan harus bisa segera dilakukan, jangan terlalu lama prosedurnya, karena bisnis itu kan kesempatan. Kesempatan itu kalau sudah lewat maka sudah jenuh. Anda mengingatkan pada revolusi mental Pres- iden Jokowi. Memang karakter beliau dengan karakter saya hampir sama.

Karakter yang mana?
Dalam hal bekerja, saya pekerja keras dan punya pendirian, integritas, kejujuran, keterbukaan. Saya tidak memuji diri sendiri, namun karakter saya sama seperti karakter Pak JK dan Pak Jokowi, hanya saja saat ini nasib saya cukup sebagai Dirutsaja.
Kalau soal kerja keras, saya hanya istirahat sekitar dua jam per hari, paling banyak tiga jam, tidak mengenal Sabtu, Minggu. Meskipun hari raya Idul Fitri, saya tetap bekerja di kantor.

Tidak ada rencana ke poiitik?
Pak, saya orang patuh dan loyal. Apa saja yang diperintahkan, saya kerjakan, tanpa pamrih, karena saya pekerja profesional, saya juga memiliki karakter pebisnis, sehingga tidak pernah tertarik untuk ke poiitik.

Suhardi Alius: Jangan Sharing Sebelum Saring

By On Juni 04, 2018


Komjen Pol Drs Suhardi Alius, MH: Jangan Sharing Sebelum Saring

Futurolog Amerika, Alvin Tofler, pernah menyebut tiga gelombang mengubah peradaban manusia. Dalain bukunya 'The third Wave', Tofler mengidentifikasi gelombang pertama adalah pertanian, kedua revolusi industri, dan ketiga komnnikasi. Fenomena dunia saat ini membenarkan teori Alvin Tofler.
Komunikasi menerobos batas-batas negara, mengobrak-abrik tatanan lama, dan mendorong peradaban tersendiri. Terdapat hal baik, namun terseret juga perilaku tidak terpuji, bahkan berbahaya di tengali penggrmaan peralatan komunikasi. Jika dahulu pen- gusaha sibuk menata toko, kini tidak lagi. Gawai yang dhniliki penduduk hingga ke desa-desa memungkinkan transaksi tanpa tatap muka. Itn hanyalah salah satu contoh.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Drs Suhardi Alius, MH, mengatakan bahwa globalisasi yang dipicu teknologi komunikasi merasuk ke semua sendi kehidupan, juga berbangsa. "Tinggal selanjutnya tergantung kemampuan kita mengedepankan pemilahan dan pemilihan terhadap semua nilai dari luar, agar kita jangan sampai teracuni oleh nilai-nilai yang dapat merusak pondasi kebangsaan seperti radikalisme dan gaya glamor yang tidak selaras dengan kebudayaan kita," katanya.

Sejak beberapa wak- tu, BNPT memopulerkan pesan berhunyi: Jangan sharing tanpa saring. Badan itu melihat di tengah gairah masyarakat bersosial media terbagi juga konten-konten berbahaya berupa radikalisme, berita bohong, dan fitnah. "Karena itu jangan kita terbuai dengan kebiasaan sharing, jangan informasi yang kita terima mentah-mentah kita sharing ke orang lain, sebab dampaknya sangat luas, dalam tempo cepat dapat menjadi opini publik padahal itu tidak benar dan merugikan mindset masyarakat. Jadi sebaiknya konfirmasi dulu, baru bagikan ke teman," papar mantan Kepala Bareskrim Mabes Polri itu.

Data pada Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebut, hingga Februari 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta dari 256,2 seluruh penduduk. Berarti sebanyak 51,8 persen penduduk Indonesia menggunakan internet. Data ini menunjukkan perkembangan yang fantastis. Sebab di tahun 2014 pengguna internet di negara ini berjumlah 88,1 juta.
Data APJII juga mengungkap perilaku pengguna internet sebanyak 31,3 juta orang mengakses internet untuk mengupdate informasi, 17,9 juta untuk mengisi waktu luang. Sementara dari segi usia, pengguna internet didominasi usia 10-44 tahun. Jumlah pengguna dengan kategori ini mencapai 94 juta. Berdasar konten media sosial yang paling sering dikunjungi, maka Facebook menduduki ranking tertinggi dengan 71,6 juta pengguna.
Memperhatikan data itu, pantas Suhardi Alius selalu mengingatkan bahaya radikalisme yang disusupkan melalui informasi-informasi via media sosial. Sebab saat ini media sosial telah menjadi arena pertarungan baru bagi penanaman kebencian dan radikalitas. Dalam pertarungan itu berita bohong dan menyesatkan (hoax) jadi senjata yang sangat diandalkan. Berita hoax dapat dengan mudah viral di tengah masyarakat yang malas memeriksa kembali validitas kont- en dan kredibilitas sumber berita.
Kelompok dan organisasi radikal sangat rajin membangun narasi untuk membentuk opini sesat masyarakat melalui berita hoax yang mudah viral. Banyak di antara mereka menunggangi isu nasional yang disesatkan tanpa sumber jelas.

Menjadikan media sosial sebagai ajang fitnah, provokasi, hasutan, dan ajakan kekerasan melalui penerbitan berita hoax, saat ini sedang digemari kelompok dan organisasi radikal. Sebab media sosial tidak membutuhkan panggung khusus untuk menanamkan paham dan keyakinan sesat.

Karena itu Suhardi Alius melihat perlunya upaya bersama untuk membangun kontra narasi radikalisme dengan meramaikan dunia maya dengan konten damai, toleran, kebhinnekaan dan wawasan kebangsaan sebagai pembanding bagi menjamurnya narasi radikalisme di dunia maya. 
"Dulu baiat dilakukan secara offline, sekarang baiat dilakukan secara online. Ini sangat berbahaya," tegasnya.

Sebagai Kepala BNPT, Suhardi Alius tak tinggal diam. Dia merekrut banyak anak muda dengan talenta tinggi di bidang teknologi informasi. Mereka menjadi Duta Damai yang tersebar di delapan provinsi. Anak-anak muda itu direkrut karena sebelumnya merupakan blogger dan pemilik akun media sosial dengan followers cukup banyak. Beberapa di antaranya memiliki followers hingga sejuta pengguna media sosial.

"Mereka membantu kita dengan membagi-bagikan pe- san-pesan damai yang menggunakan bahasa mereka agar lebih dapat diterima para pengguna media sosial yang kebanyakan anak-anak muda," papar kelahiran Jakarta, to Mei 1962 itu. ■

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *